Nissan

https://www.nissan.co.id/ucl-jagonulis.html
Tampilkan postingan dengan label BELAJAR KE MALAYSIA?. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BELAJAR KE MALAYSIA?. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 April 2018

BELAJAR KE MALAYSIA?


Kampus IIUM Gombak, KL, Malaysia.

Terlampir opini yang dimuat di Antara KL pada tanggal 19 April 2018 >>  https://kl.antaranews.com/berita/3630/belajar-ke-malaysia-


BELAJAR KE MALAYSIA?
Oleh
Hani Adhani[1]

Salah satu program unggulan yang dibuat oleh PPI Dunia yang bekerjasama dengan PPI diseluruh dunia adalah program Bantu Guru Melihat Dunia. Salah satu negara yang menjadi destinasi bagi para guru yang nantinya akan mengikuti program Guru Melihat Dunia adalah Malaysia. Mungkin nantinya akan ada beberapa guru yang lolos seleksi untuk mengikuti program Bantu Guru Melihat Dunia yang bertanya-tanya “Mengapa Belajar harus ke Malaysia?”.
Dalam kesempatan ini kami dari PPI Malaysia akan mencoba menguraikan beberapa hal yang bisa membuat mata kita sedikit terbuka dengan Malaysia khususnya terkait dengan Sistem Pendidikan dan berbagai nilai plus yang dimiliki Malaysia.   

Dekade Tahun 70 - 80
Malaysia sebagai salah satu negara yang bergabung dalam kelompok negara commenwealth (persemakmuran) baru mendeklarasikan kemerdekaanya pada tanggal 31 Agustus 1957. Meski boleh dikatakan terlambat mendeklarasikan kemerdekaannnya, namun ada upaya yang serius yang dilakukan oleh Kerajaan Malaysia untuk mengejar ketertinggalannya. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Kerajaan Malaysia adalah dengan fokus membesarkan pendidikan terlebih dahulu dengan cara menyekolahkan para guru Malaysia untuk belajar ke Indonesia.
Mungkin kita pernah mendengar pada periode dekade tahun 70 dan 80-an banyak guru-guru Indonesia yang diminta mengajar di Malaysia mulai dari giru SD, SMP sampai SMA. Sementara anak-anak muda yang baru lulus sekolah menengah atas dan guru-guru muda Malaysia disekolahkan dan kuliah di beberapa universitas di Indonesia. Program ini dilakukan oleh Malaysia pada periode era tahun 70 dan 80 an. Pemberitaan Kompas pada tahun 1971 memberitakan bahwa Indonesia memberangkatkan 48 guru berijazah sarjana untuk mengajar di Malaysia. Pengiriman guru sekolah menengah ini untuk meningkatkan mutu sekolah menengah di Malaysia yang menggunakan pengantar bahasa Melayu. Tahun 1968 dikirim 44 guru dan pada 1970 sebanyak 100 guru. Setelah tiga tahun, guru-guru tersebut harus kembali ke Tanah Air karena kebutuhan guru di Indonesia belum memadai.
Selain itu, mungkin kita juga banyak mendengar dari para orang tua kita terkait banyaknya pelajar dari Malaysia di era tahun 80-an yang belajar di IKIP (sekarang Universitas Negeri) atau terkenal juga dengan istilah sekolah calon guru. Hal tersebut adalah bagian dari visi dan misi Malaysia untuk mengejar ketertinggalnnya dimana kebijakan yang dibangun adalah dengan melakukan percepatan pendidikan khususnya untuk para guru.

Kebijakan Pemerintah Malaysia
Kebijakan lain yang dilakukan oleh Pemerintah Malaysia khususnya pada era Perdana Menteri Mahatir Muhammad adalah dengan mengirimkan dan memberikan beasiswa kepada semua pelajar atau mahasiswa terbaik agar kuliah di luar negeri dan diprioritaskan adalah dari rumpun melayu. Mahasiswa terbaik tersebut ada yang dikirim ke Indonesia dan juga beberapa negara Eropa khususnya Inggis. Hasil dari kebijakan tersebut pada akhirnya dapat dirasakan saat ini.  Hampir semua kampus di Malaysia di isi oleh para doktor dan profesor lulusan UK dan kampus Malaysia hampir semua bertaraf internasional serta menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa standar metode belajar sehingga tidak mengherankan apabila banyak mahasiswa dari seluruh dunia yang belajar di Malaysia
Selain itu, beberapa faktor dan pertimbangan yang menyebabkan Malaysia menjadi salah satu tempat favorit untuk  kuliah adalah sebagai berikut :