Nissan

https://www.nissan.co.id/ucl-jagonulis.html
Tampilkan postingan dengan label MAHASISWA SEBAGAI “AGENT OF CHANGE” PPI Malaysia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MAHASISWA SEBAGAI “AGENT OF CHANGE” PPI Malaysia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Maret 2018

MAHASISWA SEBAGAI “AGENT OF CHANGE”


Terlampir opini tentang mahasiswa sebagai Agent of Change yang saya sampaikan pada saat rapat kerja PPI Malaysia Tahun 2017-2018 di Kuala Lumpur. Opini ini juga dimuat dalam website PPI Malaysia >> http://ppi-malaysia.org/berita-acara/view/maha-siswa-sebagai-agent-of-change--6/

MAHASISWA SEBAGAI “AGENT OF CHANGE”[1]
Menerima Serifikat dari Ketua PPI Malaysia
Oleh
Hani Adhani, SH., MH.[2]

Sejarah Indonesia sejak pra-kemerdekaan hingga saat ini di era reformasi, tidak akan terlepas dari perjuangan para pemuda dan juga mahasiswa. Kita mugkin sudah sering membaca dalam buku sejarah bagaimana para pemuda dan juga mahasiswa berjuang membela rakyat. Perjuangan pemuda dan mahasiswa yang secara konsisten dan terus menerus berjuang membela rakyat, seolah-olah menjadi bagian wajib yang harus selalu ada dalam upaya untuk terus menggalang kekuatan bersama rakyat dan berjalan beriringan mengawal tegaknya keadilan bagi rakyat Indonesia.

Yang paling dekat dan mudah diingat adalah bagaimana perjuangan mahasiswa sebagai “agent of change” dalam menegakan keadilan bersama rakyat yaitu pada saat peristiwa Reformasi Tahun 1998. Pada saat itu kekuatan mahasiswa begitu “dahsyat” sehingga dapat menumbangkan rezim otoriter yang telah berkuasa selama 32 tahun dan menghasilkan era reformasi yang saat ini kita nikmati bersama. Kini setelah masuk era reformasi, maka perjuangan mahasiswa pastinya akan terus berlanjut dan tongkat kepemimpinan pergerakan mahasiswa akan selalu berlanjut pula dari satu mahasiswa ke mahasiswa yang lain. Mahasiswa sebagai agen perubahan akan selalu dinantikan oleh rakyat Indonesia untuk selalu membantu dan menjadi garda terdepan dalam hal membela dan menegakan keadilan bagi rakyat Indonesia.

Mahasiswa sebagai “mahluk yang paling diuntungkan” tentu akan terus melakukan transformasi mengikuti trend perkembangan zaman. Tentu kita tidak bisa menyamakan pola perjuangan teman-teman mahasiswa di era pergerakan kemerdekaan, era orde lama, era orde baru, era reformasi dan sekarang di era digitalisasi. Style mahasiswa di awal era reformasi (1997/1998) tentu tidak bisa disamakan dengan style mahasiswa saat ini di zaman now, namun yang masih tetap bisa kita samakan adalah harapan bahwa mahasiswa akan selalu akan mempunyai visi dan misi yang sama dan akan selalu abadi yaitu sebagai agen perubahan dalam upaya untuk menegakan keadilan dan akan selalu siap untuk membantu masyarakat, bangsa dan negara.

Mahasiswa S1 yang rata-rata berusia antara 19 s.d. 23 tahun menjadi palang pintu terakhir dalam upaya membangun karakter bangsa ke depan, karena merekalah yang akan meneruskan estafet kepemimpinan bangsa Indonesia. Kita bisa melihat para pemimpin sekarang rata-rata usia mereka antara 40 s.d. 45 tahun dan kalo kita coba menghitung mundur ke belakang, maka mereka pada saat menjadi mahasiswa adalah pada saat tahun 1993 s.d. tahun 1998. Mereka adalah “generasi emas reformasi” yang pada saat mereka menjadi mahasiswa pergerakan mahasiswa berada di titik paling tinggi atau puncak sehingga pada saat itu mereka bersama-sama bergerak untuk menumbangkan orde baru dan memunculkan era reformasi.

Organisasi Mahasiswa
Organisasi mahasiswa termasuk organisasi yang sangat unik dan penuh dengan tantangan. Organisasi mahasiswa tidak bisa disamakan dengan organisasi siswa intra sekolah (OSIS) pada saat kita sekolah di SMA ataupun SMP. Organisasi mahasiswa adalah organisasi yang mandiri dan syarat dengan tantangan. Pada saat kita masuk kampus, maka kita akan dipertemukan dengan berbagai organisasi mahasiswa yang sangat beragam, mulai dari organisasi yang hanya sekedar menyalurkan hobi sampai dengan organisasi kader yang katanya menjadi bagian dari underground nya partai politik tertentu.