Terlampir opini tentang mahasiswa sebagai Agent of Change yang saya sampaikan pada saat rapat kerja PPI Malaysia Tahun 2017-2018 di Kuala Lumpur. Opini ini juga dimuat dalam website PPI Malaysia >> http://ppi-malaysia.org/berita-acara/view/maha-siswa-sebagai-agent-of-change--6/
MAHASISWA SEBAGAI “AGENT OF CHANGE”[1]
![]() |
| Menerima Serifikat dari Ketua PPI Malaysia |
Oleh
Hani
Adhani, SH., MH.[2]
Sejarah
Indonesia sejak pra-kemerdekaan hingga saat ini di era reformasi, tidak akan
terlepas dari perjuangan para pemuda dan juga mahasiswa. Kita mugkin sudah
sering membaca dalam buku sejarah bagaimana para pemuda dan juga mahasiswa
berjuang membela rakyat. Perjuangan pemuda dan mahasiswa yang secara konsisten
dan terus menerus berjuang membela rakyat, seolah-olah menjadi bagian wajib
yang harus selalu ada dalam upaya untuk terus menggalang kekuatan bersama
rakyat dan berjalan beriringan mengawal tegaknya keadilan bagi rakyat
Indonesia.
Yang
paling dekat dan mudah diingat adalah bagaimana perjuangan mahasiswa sebagai “agent of change” dalam menegakan
keadilan bersama rakyat yaitu pada saat peristiwa Reformasi Tahun 1998. Pada
saat itu kekuatan mahasiswa begitu “dahsyat” sehingga dapat menumbangkan rezim
otoriter yang telah berkuasa selama 32 tahun dan menghasilkan era reformasi
yang saat ini kita nikmati bersama. Kini setelah masuk era reformasi, maka
perjuangan mahasiswa pastinya akan terus berlanjut dan tongkat kepemimpinan
pergerakan mahasiswa akan selalu berlanjut pula dari satu mahasiswa ke
mahasiswa yang lain. Mahasiswa sebagai agen perubahan akan selalu dinantikan
oleh rakyat Indonesia untuk selalu membantu dan menjadi garda terdepan dalam
hal membela dan menegakan keadilan bagi rakyat Indonesia.
Mahasiswa
sebagai “mahluk yang paling diuntungkan” tentu akan terus melakukan
transformasi mengikuti trend
perkembangan zaman. Tentu kita tidak bisa menyamakan pola perjuangan
teman-teman mahasiswa di era pergerakan kemerdekaan, era orde lama, era orde
baru, era reformasi dan sekarang di era digitalisasi. Style mahasiswa di awal era reformasi (1997/1998) tentu tidak bisa
disamakan dengan style mahasiswa saat
ini di zaman now, namun yang masih tetap
bisa kita samakan adalah harapan bahwa mahasiswa akan selalu akan mempunyai visi
dan misi yang sama dan akan selalu abadi yaitu sebagai agen perubahan dalam
upaya untuk menegakan keadilan dan akan selalu siap untuk membantu masyarakat,
bangsa dan negara.
Mahasiswa
S1 yang rata-rata berusia antara 19 s.d. 23 tahun menjadi palang pintu terakhir
dalam upaya membangun karakter bangsa ke depan, karena merekalah yang akan meneruskan
estafet kepemimpinan bangsa Indonesia. Kita bisa melihat para pemimpin sekarang
rata-rata usia mereka antara 40 s.d. 45 tahun dan kalo kita coba menghitung
mundur ke belakang, maka mereka pada saat menjadi mahasiswa adalah pada saat
tahun 1993 s.d. tahun 1998. Mereka adalah “generasi emas reformasi” yang pada
saat mereka menjadi mahasiswa pergerakan mahasiswa berada di titik paling
tinggi atau puncak sehingga pada saat itu mereka bersama-sama bergerak untuk
menumbangkan orde baru dan memunculkan era reformasi.
Organisasi Mahasiswa
Organisasi
mahasiswa termasuk organisasi yang sangat unik dan penuh dengan tantangan.
Organisasi mahasiswa tidak bisa disamakan dengan organisasi siswa intra sekolah
(OSIS) pada saat kita sekolah di SMA ataupun SMP. Organisasi mahasiswa adalah
organisasi yang mandiri dan syarat dengan tantangan. Pada saat kita masuk
kampus, maka kita akan dipertemukan dengan berbagai organisasi mahasiswa yang
sangat beragam, mulai dari organisasi yang hanya sekedar menyalurkan hobi
sampai dengan organisasi kader yang katanya menjadi bagian dari underground nya partai politik tertentu.
