Nissan

https://www.nissan.co.id/ucl-jagonulis.html

Selasa, 10 Januari 2017

Curhat hanya kepada Allah


Curhat hanya kepada Allah 


 Oleh Nouman Ali Khan

Kita akan mengambil hikmah dari kisah Nabi Yakub as yang tertulis dalam Al Quran, saat itu nabi Yakub as sedang berbincang dengan anaknya yang sangat kesal melihat keadaan nabi Yakub yang terus dilingkupi dengan kesedihan oleh karena ketiadaan nabi Yusuf as.

Anaknya tersebut berbicara kepada nabi Yakub as, ”apakah ayah akan terus bersedih karena kematian Yusuf dan akan mengingat Yusuf sampai wafat?, bisakah ayah melupakannya?“

Kemudian nabi Yakub as merespon pernyataan dari anaknya tersebut dan mengatakan “sesungguhnya aku hanya mengadukan kesusahan dan duka citaku kepada Allah”

Ini adalah kalimat yang sangat dalam, kita semua pasti pernah merasakan kesedihan, kita semua punya masalah dan sering curhat terkait masalah tersebut kepada teman kita, dan akan terasa sangat membantu apabila kita menceritakan masalah kita kepada orang bijak yang kita percaya.

Terkadang kita curhat tentang masalah kita kepada orang tua, teman dekat, guru atau ulama atau ada beberapa yang juga curhat melalui email kepada saya dan menceritakan tentang permasalahnnya, atau ketika saya sedang menjadi pembicara, banyak juga yang menceritakan berbagai permasalahnnya.
Surat Yusuf ayat 86 :
قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ



Ya'qub menjawab: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya".

Jumat, 30 Desember 2016

Pemakzulan Presiden Korea~Hani Adhani




Terlampir Opini saya yang dimuat di Koran Tempo pada hari Rabu, tanggal  21 Desember 2016 12:29 WIB


Pemakzulan Presiden Korea~Hani Adhani


Hani Adhani

Panitera Pengganti Mahkamah Konstitusi RI

Isu adanya korupsi yang dilakukan oleh Presiden Korea Park Geun-hye pada akhirnya telah memaksa ribuan rakyat Korea untuk turun ke jalan guna menuntut Majelis Nasional Korea, parlemen negeri itu, memakzulkan Park. Awal Desember lalu, parlemen akhirnya memutuskan untuk memakzulkan Park dengan dukungan 234 dari jumlah total 300 legislator.

Dalam konstitusi Republik Korea, proses pemakzulan tidak hanya dapat dilakukan terhadap presiden, tapi dapat juga dilakukan terhadap pejabat publik lainnya, seperti perdana menteri, menteri, hakim konstitusi, hakim, pejabat audit, dan anggota komisi pemilihan umum. Jika pejabat tersebut dianggap melanggar konstitusi atau melanggar tugas dan kewajibannya sebagai pejabat publik, parlemen dapat mengajukan permohonan pemakzulan jika diusulkan oleh 1/3 anggota parlemen dan disetujui oleh 2/3 anggota parlemen.

Dalam sejarah ketatanegaraan di Negeri Ginseng, proses pemakzulan presiden melalui Mahkamah Konstitusi pernah juga terjadi pada 2004. Pada saat itu, Presiden Roh Moo-hyun dimakzulkan oleh parlemen karena dianggap telah melanggar undang-undang pemilihan umum. Dia secara terang-terangan mendukung salah satu partai politik menjelang pemilihan anggota Majelis Nasional, padahal Undang-Undang Pemilu Korea menggariskan bahwa pejabat publik harus bersikap netral.

Atas pelanggaran tersebut, parlemen pada 12 Maret 2004 memakzulkan Roh Moo-hyun. Mahkamah Konstitusi, yang salah satunya kewenangannya menyelesaikan permohonan pemakzulan, kemudian menyidangkan permohonan pemakzulan tersebut dan pada 14 Mei 2004 membacakan putusannya dengan Nomor Perkara 2004 Hun-Na.

Rabu, 30 November 2016

“KITA ADALAH PEMIMPIN”



“KITA ADALAH PEMIMPIN”
Oleh Hani Adhani[1]
=====

Dalam kesempatan ini saya akan mencoba berbagi cerita tentang kepemimpinan yang saya alami sejak saya berada di bangku sekolah hingga saat ini saya bekerja di Mahkamah Konstitusi.

Menjadi pemimpin memang selalu identik dengan organisasi atau kumpulan orang. Mulai dari keluarga, RT, RW, desa hingga Negara. Tentunya kita banyak belajar dan mengambil hikmah dari kepemimpinan orang tua kita masing-masing.

Sejak kita dalam kandungan hingga saat ini kita dewasa, orang tua menjadi figur sentral dalam membentuk karakter diri kita sebagai pemimpin. Ibu dan ayah kita berupaya semaksimal mungkin menjadikan kita menjadi anak yang soleh/solehah, sukses dan berhasil. Hingga saat ini saya dewasa dan bersia berusia 38 tahun, namun tetap saja saya masih meminta bantuan kepada orang tua dalam hal apapun. Bukan hanya ketika susah namun dalam keadaan senang pun saya masih selalu merepotkan orang tua. Begitupun teman-teman semua para mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini, saya yakin belum bisa lepas 100% dari bantuan orang tua.

Orang tua kita adalah figur sental pemimpin yang pertama kali kita kenal dan yang mempengaruhi gaya kepemimpinan kita selanjutnya.